You need to enable javaScript to run this app.

Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pembiasaan di Lingkungan Sekolah.

  • Rabu, 24 November 2021
  • ERNA DWI SRI WAHYUNI, S.Pd
  • 0 komentar
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pembiasaan di Lingkungan Sekolah.

Karakter adalah perilaku seseorang yang membedakan satu dengan yang lainnya sebagai hasil dari proses interaksi seseorang dengan lingkungannya. Perilaku gaya hidup bebas, aksi kriminal, tawuran antar pelajar, sampai pada penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang kerap melibatkan pelajar sebagai pelakunya. Sedih bercampur prihatin, pelajar yang seharusnya bersikap cerdas, kritis, berwawasan luas dan menjadi contoh bagi masyarakat justru bertindak sebaliknya.

Jika kita renungkan kembali apa yang salah dengan pola pendidikan yang diterapkan pemerintah saat ini. Tidak kurang pemerintah telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk melatih guru-guru yang ada di Indonesia untuk menerapkan pendidikan karakter agar generasi-generasi mendatang menjadi tumpuan masa depan bangsa. Pendidikan karakter adalah sebuah paradigma yang diusung pemerintah agar Indonesia ke depan memiliki generasi-generasi yang unggul yang bisa bersaing dengan bangsa lain untuk menuju Indonesia yang lebih maju.

Karakter pada dasarnya dibentuk di lingkungan manusia berada. Karakter manusia dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis merupakan faktor genetik pembawaan dari orang tuanya. Sedikit banyak karakter orang tua akan menurun pada anak-anaknya. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena sudah menjadi takdir sifat dan pembawaan orang tua secara otomatis akan menurun pada si anak. Meskipun demikian faktor genetik atau biologis ini bukan menjadi dominan karena harus melewati seleksi lingkungan yang lebih banyak berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Faktor lingkungan terdiri dari tiga yaitu:(1) Lingkungan keluarga, keluarga memiliki peranan yang sangat penting untuk menumbuhkan perkembangan karakter seseorang. (2) Lingkungan Masyarakat atau teman sebaya. Lingkungan yang baik, aman, tenang, dan damai akan menambah dan mewarnai karakter anak hingga tumbuh menjadi anak yang baik. Sebaliknya lingkungan masyarakat yang bising, tidak aman, penuh dengan pelanggaran norma-norma sosial (3) Lingkungan Sekolah, merupakan lingkungan ketiga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak dan menentukan kehidupan masa depan anak.

Peran guru dan warga sekolah dalam pembentukan karakter siswa. Guru adalah orang tua kedua setelah di rumah. Sebagaimana layaknya orang tua, guru harus memperlakukan peserta didik sebagaimana anaknya sendiri. Tidak boleh ada diskriminasi, perlakuan kasar, maupun kata-kata yang dapat menyakitkan hati anak. Guru harus menjadi contoh dan tauladan bagi peserta didik. Sepatutnya guru harus menghindarkan hal-hal sebagai berikut: guru mengajarkan rajin atau disiplin tapi gurunya sendiri sering terlambat, guru mengajarkan toleransi terhadap sesama tapi gurunya tidak punya kepedulian terhadap anak didik, guru mengajarkan kelembutan dan kasih sayang tapi gurunya sendiri kasar terhadap anak didik, guru mengajarkan kebersihan tapi guru tidak pernah mengingatkan ketika ada sampah di kelas. Itulah beberapa hal yang mungkin masih kita temukan di beberapa sekolah.

Figur sebagai pendidik tidaklah mudah, karena guru memiliki peran ganda dalam mendidik anak. Di satu sisi guru dituntut mendidik keluarganya sendiri dengan segala persoalannya tetapi di sisi lain guru juga harus berperan sebagai pendidik di sekolah. Dua peran ganda ini tidak boleh saling tumpang tindih, apabila guru sedang menghadapi persoalan keluarga di rumah jangan sampai dibawa ke sekolah, begitu juga ketika guru memiliki persoalan di sekolah jangan sampai di bawa ke rumah karena apabila hal itu tidak bisa dihindarkan maka yang terjadi adalah pelampiasan emosi karena penempatan persoalan yang tidak pada ruangnya. Guru tidak hanya sekedar mengajar saja tapi bagaimana seorang guru bisa memberikan apa yang terbaik bagi anak didiknya. Seni di dalam mengelola permasalahan sangat diperlukan oleh guru karena bukan tidak mungkin guru setiap waktu pasti dihadapkan dengan berbagai persoalan dari peserta didik. Mulai dari persoalan di dalam kelas pada saat proses pembelajaran maupun persoalan di luar kelas.

pembentukan karakter peserta didik tidak bisa berjalan secara instan. Perlu dibiasakan, perlu kesabaran, dan yang lebih penting adalah komitmen bersama untuk membangun budaya karakter yang baik pada peserta didik.

Dukungan orang tua diperlukan untuk mewujudkan pembangunan karakter peserta didik. Partisipasi orang tua dalam membantu pembentukan karakter sangat menentukan keberhasilan peserta didik. Orang tua hendaknya harus percaya kepada sekolah bahwa sekolah adalah lembaga terbaik selain keluarga yang dapat membangun karakter positif peserta didik. Biarkan sekolah mendidik anak-anak mereka dengan pola dan sistem yang berlaku di sekolah. Jangan terlalu reaktif jika ada persolan yang menimpa anaknya akan lebih baik jika dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah berdasarkan asas saling percaya. Hal ini akan menguatkan pihak sekolah bahwa sekolah mendapat kepercayaan dan dukungan yang baik dari pihak orang tua/wali.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Christina Maryeni S.Pd

- Kepala Sekolah -

Sebagai lembaga pendidikan,SMP KANISIUS BAMBANGLIPURO tanggap dengan perkembangan teknologi tersebut. Dengan dukungan SDM yang di miliki sekolah ini siap untuk…

Berlangganan
Banner