Kesenian tari Reog Wayang (atau sering disebut Reog Wayang Bantul), sebuah warisan budaya khas Kabupaten Bantul yang menggabungkan kemegahan seni tari dengan kekayaan tradisi pewayangan. Berbeda dengan Reog Ponorogo yang identik dengan Dadak Merak dan Barongan, Reog Wayang menyajikan pertunjukan hebat yang dibawakan oleh puluhan penari berbusana lengkap layaknya tokoh-tokoh wayang orang. Karakter yang ditampilkan pun sangat beragam, mulai dari para ksatria, prajurit, hingga tokoh-tokoh pewayangan ikonik lainnya yang tampil memukau diiringi alunan musik gamelan yang dinamis.

Daya tarik utama Reog Wayang terletak pada tampak busananya yang mencolok serta ragam gerak tarinya yang gagah dan penuh semangat. Para penari mengenakan mahkota, kostum berornamen khas, hingga tata rias wajah yang disesuaikan dengan watak masing-masing karakter wayang yang dibawakan. alur cerita dalam pertunjukannya biasanya mengadaptasi kisah-kisah Mahabharata atau Ramayana, khususnya adegan pertempuran atau keprajuritan yang dikemas secara menarik sehingga selalu berhasil memikat perhatian warga dari berbagai kalangan desa.

Kesenian ini tumbuh subur dan sangat populer di kawasan Bantul bagian selatan, seperti di Kapanewon Srandakan, Sanden, Bambanglipuro, Pandak, dan Pajangan. Di wilayah-wilayah tersebut, Reog Wayang tidak sekadar menjadi tontonan hiburan, tetapi sudah menyatu dengan identitas budaya lokal. Hampir setiap kalurahan atau dusun di wilayah selatan ini memiliki kelompok seni Reog Wayang tersendiri yang aktif membina para generasi muda untuk meneruskan tradisi tersebut.

Hingga kini, Reog Wayang rutin dipentaskan dalam berbagai hajatan warga, perayaan Merti Dusun (bersih desa), hingga festival budaya daerah. Keberadaan kesenian ini menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Bantul selatan dalam menjaga kelestarian seni tradisi. Melalui semangat para generasi, Reog Wayang terus bertahan sebagai salah satu ikon kebudayaan Yogyakarta yang membanggakan dan sarat akan nilai-nilai luhur.