Selasa, 21 Juli 2026, SMP Kanisius Bambanglipuro kembali memulai kegiatan literasi. Kegiatan literasi di sekolah dilaksanakan setiap Selasa dan Rabu. Pada hari Selasa, siswa membaca buku fiksi maupun nonfiksi, sedangkan pada hari Rabu mereka mengikuti kegiatan literasi digital tematik.
Literasi digital tematik diawali dengan pengenalan profil lulusan SMP Kanisius Bambanglipuro. Selanjutnya, siswa akan diajak mengenal Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, sejarah Bantul, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ada hal istimewa dalam pembelajaran sejarah sekolah. Anak-anak mulai mengetahui bahwa sekolah mereka kini telah berusia 107 tahun. Selama lebih dari satu abad, SMP Kanisius Bambanglipuro telah menjadi tempat pendidikan karakter yang utuh dan diandalkan oleh masyarakat. Bahkan, siswa yang belajar di sekolah ini tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari luar Pulau Jawa.
Sejarah panjang sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari keluarga Schmutzer. Pada 1919, keluarga Schmutzer menanggapi ensiklik Paus Leo XIII yang berjudul Rerum Novarum, yang antara lain berbicara mengenai persoalan sosial dan hak-hak para buruh. Perhatian tersebut diwujudkan melalui pembangunan sekolah di sekitar Pabrik Gula Gondanglipuro. Pembangunan sekolah dilakukan secara bertahap sejak 1919 hingga 1930 untuk mendidik anak-anak karyawan yang bekerja di pabrik serta anak-anak dari warga sekitar.
Membaca Buku, Melatih Ketekunan
Pada hari Selasa, anak-anak diminta membawa buku sebagai bahan bacaan. Buku yang dibawa adalah buku yang tidak selesai dibaca dalam sekali duduk, dengan jumlah sekitar 80–150 halaman. Buku tersebut boleh berupa fiksi maupun nonfiksi, termasuk novel, biografi, buku sejarah, buku sains, bahkan komik.
Kebiasaan membaca buku menjadi semakin penting di tengah perubahan besar dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Sekitar 2018, TikTok berkembang sebagai platform media sosial yang menjadi wadah untuk berekspresi melalui video pendek. Perkembangan tersebut kemudian diikuti oleh perusahaan teknologi lainnya. Instagram menghadirkan Reels, sedangkan YouTube menghadirkan Shorts.
Perubahan atau disrupsi digital tersebut membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi konten secara cepat dan terus-menerus. Anak-anak dan remaja yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital perlu memiliki kemampuan untuk memilih, memahami, dan mengolah informasi secara kritis.
Salah satu istilah yang belakangan populer adalah brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan dan dampaknya terhadap kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi, berpikir secara mendalam, serta menikmati aktivitas yang membutuhkan waktu dan ketekunan.
Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam berbagai fungsi otak, antara lain motivasi, pembelajaran, gerakan, serta sistem penghargaan. Ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang dianggap menyenangkan atau menarik, sistem penghargaan di dalam otak dapat terlibat dan mendorong seseorang untuk mengulangi perilaku tersebut.
Persoalannya muncul ketika seseorang terbiasa mendapatkan rangsangan secara cepat dan terus-menerus. Konten video pendek dengan gambar yang menarik, pergantian adegan yang cepat, dan informasi yang terus berganti dapat membuat seseorang terbiasa dengan pola konsumsi informasi yang serba cepat. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan waktu, kesabaran, konsentrasi, dan proses berpikir mendalam dapat terasa lebih sulit.
Dunia nyata tidak selalu berjalan secepat layar gawai. Belajar di kelas, membaca buku, memahami konsep sains, mengerjakan soal, menulis, bahkan membangun sebuah hubungan dengan orang lain membutuhkan proses. Tidak semuanya dapat diperoleh secara instan. Karena itu, anak-anak perlu dilatih untuk mampu menikmati proses dan bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.
Membaca sebagai Upaya Melawan Brain Rot
Membaca buku merupakan salah satu upaya sekolah untuk menghadapi tantangan tersebut. Membaca bukan sekadar aktivitas melihat rangkaian kata, tetapi sebuah proses berdialog dengan gagasan.
Menurut Karlina Supelli, astronom dan dosen di STF Driyarkara, membaca buku tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh media sosial karena aktivitas membaca melatih seseorang untuk berpikir secara tajam dan kritis.
Membaca buku memang tidak selalu mudah. Kadang-kadang, kita tidak memahami satu hal pun dari sebuah bab. Namun, ketika beranjak ke halaman atau bab berikutnya, perlahan-lahan kita mulai menemukan gagasan yang menarik. Kita mulai membandingkan, mempertanyakan, menyetujui, atau bahkan menolak gagasan yang disampaikan oleh penulis.
Pada saat itulah proses berpikir berlangsung. Membaca membuat kita tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolah, mempertanyakan, dan mengevaluasinya. Aktivitas membaca yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengembangkan kemampuan memahami informasi, bernalar, dan berpikir kritis.
Membaca sebagai Kebiasaan
Literasi SMP Kanisius Bambanglipuro dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pertama dalam buku Atomic Habits karya James Clear, yaitu menjadikan kebiasaan tersebut terlihat. Anak-anak membaca bersama-sama atau dalam kelompok di lapangan sekolah. Dengan menciptakan lingkungan yang memperlihatkan bahwa membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, sekolah berusaha membangun kebiasaan membaca secara konsisten.
Kebiasaan ini akan berlangsung sepanjang tahun. Harapannya, membaca tidak hanya menjadi kegiatan yang dilakukan karena tugas sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebutuhan dan kebiasaan pribadi.
Dari membaca, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang imajinatif, kreatif, kritis, dan inovatif. Membaca membuka jendela pengetahuan dan mempertemukan anak dengan berbagai gagasan, pengalaman, budaya, serta cara pandang yang berbeda.
Sebab, dengan membaca kita belajar berpikir. Dengan berpikir, kita belajar menulis. Dengan menulis, kita belajar berbudaya. Dengan budaya, kita membangun peradaban.
Maka, melawan brain rot tidak cukup hanya dengan mengurangi waktu di depan layar. Salah satu caranya adalah kembali menyediakan ruang bagi anak untuk membaca, berpikir, berdialog, dan menikmati sebuah proses.
SMP Kanisius Bambanglipuro ingin menjadikan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari perjalanan pendidikan anak-anak. Karena anak yang gemar membaca bukan hanya memiliki lebih banyak pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun imajinasi, mengasah daya kritis, menciptakan gagasan, dan pada akhirnya ikut membangun peradaban yang sehat bagi Indonesia emas.