Pada materi IPA kelas 7 semester dua tentang efek rumah kaca dan pemanasan global, murid diminta untuk dapat menjelaskan hubungan di antara keduanya. Di era berburu dan meramu, efek rumah kaca sudah ada. Bumi secara alami mengondisikan dirinya tetap hangat dengan menahan sejumlah panas dari cahaya Matahari agar tidak semuanya keluar ke angkasa menggunakan atmosfer Bumi.

Berawal dari Revolusi Industri

Era telah berganti ketika Inggris dan Prancis memulai Revolusi Industri, ketika mesin-mesin produksi berkembang begitu pesat untuk membuat makanan, alat transportasi, alat kesehatan, serta lain sebagainya. Kondisi alami Bumi berubah drastis. Panas dari cahaya Matahari yang seharusnya sebagian keluar ke angkasa menjadi lebih banyak tertahan karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), yang terakumulasi di atmosfer Bumi. Atmosfer yang semakin pekat oleh penumpukan gas rumah kaca membuat lebih banyak panas terperangkap, sehingga suhu rata-rata Bumi naik sekitar 1,4°C–1,55°C dibandingkan masa praindustri, menurut World Meteorological Organization (WMO). Penyebab begitu banyaknya gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer tidak lepas dari kemajuan di bidang industri, teknologi, dan pangan.

Kemajuan Teknologi Membawa Konsekuensi

Produksi mobil listrik membutuhkan lebih banyak nikel yang diperoleh dengan penambangan, yang operasionalnya menggunakan minyak bumi dan batu bara yang diperoleh dari proses penambangan. Penambangan punya banyak konsekuensi terhadap peningkatan suhu rata-rata Bumi. Sebut saja operasional penggunaan alat berat yang menggunakan bahan bakar fosil penghasil CO₂, pembukaan hutan yang mengurangi penyerap alami CO₂ karena berkurangnya proses fotosintesis, serta pembakaran lahan gambut yang menyebabkan gas rumah kaca, termasuk karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), terlepas ke atmosfer.

Dari Antroposentris Bergeser Ke Ekosentris

Kesalahan tafsir dalam Alkitab, Kejadian 1:28, Perjanjian Lama, “Beranakcuculah dan bertambah; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, membuat manusia menjadi sombong seolah-olah mereka pusat dan penguasa Bumi, atau sering kita sebut antroposentris. Antro artinya manusia dan sentris artinya tengah atau pusat. Manusia mulai melakukan kerakusan tak berujung dengan mengeruk dan menumpuk hasil Bumi untuk kemegahan serta kemewahan diri sendiri. Manusia secara masif merusak daratan, lautan, udara, hutan, menderitakan hewan, tumbuhan, bahkan sesama mereka sendiri.

Tuhan tentu tidak bermaksud agar kita menjadi manusia yang rakus dan tamak. Tuhan ingin kita menjadi pelindung bagi sesama dan semesta. Maka, paradigma antroposentris tadi harus bergeser menjadi ekosentris. Eko artinya lingkungan atau ekosistem dan sentris artinya pusat. Manusia bukan lagi menjadi pusat; manusia adalah bagian dari ekosistem. Jika ekosistem rusak, manusia yang akan menanggung akibatnya.

Meminjam Harus Mengembalikan

Meminjam kata Iqbal Damanik, aktivis Greenpeace Indonesia: “Kita bukan pewaris bumi dari kakek nenek moyang kita, kita hanya meminjam bumi untuk anak cucu kita.” Karena manusia bukan pewaris yang punya hak untuk memakai sesuka hati, kita hanya meminjam Bumi sebentar. Setelah kita selesai memakainya, kita akan mengembalikannya dalam keadaan yang baik, terawat, dan dapat digunakan oleh anak cucu kita.

Refrensi :

Mgmp, IPA. 2026.Bahan Ajar IPA Kelas VII Semester II. Bantul : CV. MEDIA PRESTASI

https://climate.copernicus.eu/why-do-we-keep-talking-about-15degc-and-2degc-above-pre-industrial-era