Kelas sudah sepi. Cahaya matahari sore masuk dari jendela, menerangi meja dan kursi yang tertata rapi di sana. Suara siswa dari kejauhan samar-samar. 

Di dalam kelas, ada empat siswa yang sibuk membuat vidio konten. Yuda, Ello, Gina, dan Vinzy.

Yuda: "Guys, bikin konten, yok! Mumpung kelas kosong. Nanti kalo viral, kita jadi artis sekolah!" 

Ello: "Dih, pede banget lu. Vidio tugas kelompok aja nggak ada yang mau nonton." 

Gina: "Udah deh, berisik. Sini gue aja yang rekam, kita pakai filter horor biar lucu." 

Gina membuka aplikasi kamera di ponselnya dan memilih filter yang dapat mendeteksi wajah, kemudian memasang filter hantu yang menangkap wajah dikamera.

Vinzy: "Ih, jangan yang serem, deh! Gue orangnya gampang takut.

Ello: "Yaelah, santai, Zy. Cuma filter juga, hantu juga butuh internet buat nakutin kita."

Mereka tertawa. Gina mengarahkan kamera ke wajah Ello, yang langsung berubah jadi hantu mata merah dan senyum lebar.

Yuda: "HAHA! Udah cocok jadi penunggu kamar mandi sekolah!" 

Ello: "Kurang aja lu, Yud."

Mereka kembali tertawa. Lalu Gina menggerakkan kamera kesetiap sudut kelas mencari latar yang menarik.

Tiba-tiba, ia terhenti menggerakkan ponselnya.

Gina: "Loh, kok aneh, ya?"

Yuda: "Apaan? Memo penuh? Wajar sih, hp purba."

Gina: "Ish, serius. Liat deh, pojok situ."

Kamera mengarah ke lemari tua di sudut kelas. Diantara tembok dan lemari, filter itu muncul begitu aja.

Filter itu nggak nempel kesiapapun, nggak ada muka, tubuh, bener-bener kosong dan melayang diudara.

Vinzy: "Itu... apaan?" 

Ello: "Ah, paling error doang. Coba geser kameranya." 

Gina menggerakkan kameranya ke samping, dan balik ke lemari tua itu. Filternya muncul lagi ditempat yang sama.

Yuda: "Wow, filter lu canggih amat. Fix bukan hp purba, hp zaman dijilat—Eh, digital ini mah, bisa ngedeteksi hantu."

Gina: "Jangan bercanda dulu, Yud. Gue nggak ngapa-ngapain!"

Perlahan, filter itu geser dikit. Kayak seolah memperhatikan mereka.

Senyum Yuda langsung hilang.

Vinzy: "Gina, matiin kameranya. Gue nggak suka!" 

Gina buru-buru matiin kameranya.

Gina: "Udah, udah! Udah gue matiin." 

Suasana kembali hening. Mereka saling bertukar padangan, kayak meyakinkan itu cuma gangguan aplikasi.

Akan tetapi, dari sudut kelas terdengar suara gesekan pelan.

KREKK... 

Mereka kompak menoleh ke arah lemari tua.

Ello: "Siapa yang mindahin kursi?"

Yuda: "Bukan gue, demi?"

Ello: "Demi?"

Yuda: "Demi ungger."

Vinzy: "YUDA!" 

Gina menyalakan lagi kamera, dengan tangan yang gemetar. Wajah hantu itu masih ada disana.

Namun, kini sedikit lebih dekat..


Gina mundur perlahan sambil tetap mengarahkan kameranya di lemari itu. Sementara ketiga temannya, berkumpul dibelakangnya.

Gina: " Guys.. tadi posisinya di deket lemari kan?" 

Ello: "Iya?.. Kenapa?" 

Gina: "Sekarang malah di depan lemari." 

Yuda melirik ke layar ponsel. Wajahnya seketika memucat.

Yuda: "Boong, ya, lu! Pasti lu geser kan kameranya?" 

Gina: "Gue nggak geser!"

Vinzy meraih lengan Ello.

Vinzy: "Ihh.. ayo pulang. Serius, gue udah nggak kuat.." 

Ello mencoba bersikap santai. Ia melangkah mendekat ke sudut kelas buat buktiin nggak ada apa-apa disana.

Ia persis berdiri di depan lemari itu. Dan, nggak ada apa-apa. Nggak ada yang aneh. Cuma dinding dan bayangan meja.

Ello: "Tuh? Filternya aja yang rusak." 

Yuda: "Berarti hp purba?"

Hening..

Tepat saat itu juga, topeng hantu itu muncul di belakang kepala Ello.

Gina: "ELLO, MINGGIR!" 

Ello langsung berbalik. Kosong.

Ello: "Hah, apaan?!"

Di layar, topeng itu kembali bergerak. Perlahan jaraknya semakin dekat ke kamera.

Yuda: "Kita keluar. SEKARANG!"

Mereka bergegas menuju pintu kelas. Saat sebelum mencapai pintu, Gina tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Kamera menghadap ke lantai, tetapi layar tetap menyala.

Vinzy: "GINA! HP LU!" 

Gina mengambil ponselnya. Namun, ia sontak membeku.

Wajah hantu itu kini telah memenuhi layar ponselnya. Mulutnya terbuka lebar, seperti teriak tanpa suara.

Gina: "LARII!!" 

Mereka berlari keluar kelas. Ello menarik pintu sampai tertutup, dan mereka menjauh menyusuri koridor tanpa ada yang berani menoleh.

Beberapa detik kemudian.

Ponsel Gina yang tertinggak ternyata masih merekam.

Layar kamera perlahan mengarah ke sudut kelas. Wajah hantu itu kembali muncul, tapi tidak hanya satu.

Filter kamera kembali mendeteksi sesuatu baru.

Wajah kedua muncul. Keduanya menatap lurus ke arah kamera.


Keempat dari mereka pun akhirnya berhenti di dekat gerbang sekolah. Mereka terengah-engah, meski sambil mencoba mencerna apa yang terjadi sebelumnya.

Yuda: "Besok bikin konten nggak usah aneh-aneh. Dan di rumah aja." 

Ello: "Sepakat. Gue resign jadi kreator horor." 

Vinzy mengangguk cepat. Gina melihat ponsel milik Yuda, ia sempat terdiam.

Gina: "Tadikan rekamnya pakai hp gue.." 

Ia menyadari ponselnya tertinggal di dalam kelas.

Gina: "HP GUE MASIH DI SANA!" 

Belum sempat mereka memutuskan untuk kembali, ponsel Yuda berbunyi.

TING.. 

Notifikasi masuk. Satu vidio terkirim dari akun Gina.

Ello: "Loh? Kok bisa? Hp-nya kan ketinggalan?" 

Yuda membuka video tersebut. Rekaman itu cuma nunjukin sudut kelas yang kosong.

Setelah itu, muncul tulisan:

TERIMA KASIH TELAH MENGAJAK KAMI IKUT BERMAIN

Video berakhir.

Semuanya terdiam.

Lalu, kamera menyorot layar Yuda. Aplikasi kamera terbuka sendiri dan mendeteksi empat wajah di koridor.

Namun, diantara mereka berempat. Satu wajah tambahan muncul.

LAYAR MENJADI HITAM



Tidak semua hal harus dijadikan konten demi hiburan. Tetaplah bijak dalam menggunakan teknologi, jangan abaikan sesuatu yang mencurigakan dan utamakan keselamatan saat membuat video bersama teman.