Karya Tulis
Delapan Jam Tanpa Handphone
<p>Bel masuk jam enam lebih lima puluh, di kelas 9A terasa beda sekali karena katua kelasnya tiba dengan membawa rak bertuliskan "RUANG 5". Semua siswa diwajibkan mengumpulkan HP sampai bel pulang sekolah. Reaksi sekelas langsung heboh, beberapa siswa laki-laki menepuk jidatnya karena frustrasi game kesukaannya lagi ada event terbatas, sementara beberapa siswa perampuan merengek membayangkan streak media sosialnya terancam putus. Begitu Handphone dikumpulkan diruang guru, suasana kelas mendadak terasa hampa.</p><p><br /></p><p>Dua jam pertama di pelajaran Matematika rasanya seperti penyiksaan karena tangan refleks meraba saku seragam setiap dua menit sekali. Biasanya, kalau guru lagi menerangkan rumus rumit, aku bakal pura-pura mencatat padahal sibuk scrolling layar di bawah meja. Tanpa HP di genggaman, mata cuma bisa menatap kosong ke papan tulis, sementara teman di sebelahku sibuk memutar-mutar pulpen karena kebingungan mau melakukan apa.</p><p><br /></p><p>Keajaiban justru terjadi saat bel istirahat berbunyi. Biasanya kantin sepi dari suara ngobrol karena semua orang sibuk menunduk menatap layar masing-masing. Tapi kali ini, temanku tiba-tiba melempar bola kertas ke arahku dan mulai mengajak bercanda. Obrolan makin seru saat teman-teman lain ikut gabung, menirukan gaya guru-guru sampai kita semua tertawa kencang. Ternyata, ngobrol langsung tanpa diselingi suara notifikasi rasanya jauh lebih hidup dan seru.</p><p><br /></p><p>Saat bel pulang berbunyi jam setengah tiga sore, katua kelas mengambil HP kami dari ruang guru, anehnya tidak ada yang saling berebutan. Layar Handphoneku memang langsung dibanjiri ratusan notifikasi yang masuk, tapi rasanya biasa saja. Delapan jam tanpa Handphone ternyata menyadarkan kami kalau dunia nyata dan momen kebersamaan bersama teman-teman jauh lebih berharga daripada sekadar menatap layar seharian</p>