Pagi itu, matahari belum sepenuhnya muncul. Pak Wira kini berada di dapur dengan kaus sederhana, memasak nasi, telur dadar, dan sayur untuk bekal makan siang anaknya, Rendra.

Setelah selesai, makanan itu ia masukkan ke dalam kotak bekal bewarna merah, dan diletakkan di dekat tas Rendra.

"Bekalnya jangan lupa dibawa, ya, Rendra!" seru Pak Wira.

Rendra keluar dari kamar, lalu menghela napas melihat kotak bekal tersebut.

"Kenapa aku harus bawa bekal terus sih, Yah? Teman-teman aku semuanya jajan di kantin," keluhnya.

Pak Wira tersenyum tipis. "Bawa bekal lebih hemat, Ren. Uangnya bisa Ayah simpan buat kebutuhan sekolah kamu." 

"Tapi aku malu, Yah. Aku udah SMP, bukan anak kecil lagi." 

Senyum Pak Wira memudar. Tetapi, ia tak membantah perkataan Rendra. Ia hanya memasukkan kotak bekal ke dalam tas Rendra.

"Gapapa, Ren. Yang penting kamu jangan sampai lupa makan." 

Rendra pun segera berpamitan dan berangkat ke sekolah.

Jam istirahat akhirnya tiba. Rendra dengan teman-temannya duduk bersama di kelas. Saat Janaka melihat ke dalam tas Rendra, ada kotak bekal bewarna merah disana, ia langsung bertanya.

"Ren, lu bawa bekal? Kenapa nggak dimakan?"

"B aja. Nggak terlalu suka," jawab Rendra bohong.

Kemudian ia menyimpan kotak bekalnya, tanpa menyentuh makanan di dalamnya.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, para siswa telah pulang dan ada juga yang masih menunggu jemputan. Rendra melihat Ayahnya di gerbang dengan motor yang digunakan bekerja sebagai ojek online. Jaketnya tampak kusam dan wajah lelah setelah seharian bekerja mencari nafkah.

Rendra naik ke atas motor tanpa banyak bicara. Sepanjang jalan, Rendra hanya memikirkan rasa malu akan pekerjaan Ayahnya yang sederhana dan bekal yang selalu ia bawa.

Ia hanya belum memahami di balik semua itu, ada perjuangan mati-matian Ayahnya setiap hari.


Malam harinya, Rendra terbangun karena merasa haus. Ketika ia melewati dapur, matanya menangkap Ayahnya yang duduk sendirian di meja makan sambil menghitung uang hasil ia bekerja.

Di sebelahnya ada uang yang dipisahkan untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rendra.

"Ayah nggak tidur?" tanyanya.

Pak Wira menoleh. "Nanti, Ren. Ayah masih menghitung uang buat besok." 

Rendra berjalan mendekat. Saat itu ia melihat kotak bekal miliknya di atas meja, di dalamnya ada makanan yang ia bawa tadi pagi.

"Yah, kok kotak bekalnya belum dicuci?" 

Pak Wira menoleh ke kotak tersebut. Lalu tersenyum tipis.

"Tadi udah mau Ayah cuci. Tapi sayang juga kalo makanan kebuang cuma-cuma. Besok kotaknya masih bisa dipakai." 

Rendra terdiam. Tentu ia tahu Ayahnya pasti menyadari makanan itu tak disentuhnya sedikitpun, dan Ayahnya tak marah.

"Yah, maaf," ucapnya pelan. "Aku nggak makan bekalnya. Aku malu kalo temen-temen aku tau bawa bekal dari rumah."

Pak Wira seketika berhenti menghitung uang.

"Ren, Ayah bukan orang kaya. Ayah juga nggak bisa beliin apa yang kamu mau. Tapi selama Ayah bisa kerja, Ayah bakal berusaha mencukupi kebutuhan kamu." 

Ia mengusap kepala Rendra dengan lembut.

"Setiap pagi Ayah siapin kamu bekal biar kamu nggak kelaperan di sekolah. Ayah nggak minta kamu balas semua perbuatan Ayah. Ayah cuma mau kamu belajar dengan baik dan tumbuh jadi orang yang menghargai sesama." 

Pandangan Rendra mulai kabur karena air matanya yang sudah terbendung. Ia memandang tangan kasar Ayahnya. Tangan itulah yang mengendarai motor berjam-jam untuk mencari nafkah di bawah terik matahari, sekaligus menyiapkan bekal untuknya sebelum pagi tiba.

Selama ini, Rendra hanya melihat kesederhanaan Ayahnya. Ia tak pernah benar-benar melihat pengorbanan  Ayahnya dibalik kesederhanaan itu.

"Maafin aku, Yah," katanya sambil memeluk Ayahnya. "Mulai besok, aku bakal makan bekal dari Ayah. Aku juga bangga punya Ayah."

Pak Wira membalas pelukan anaknya dengan senyum hangat.

"Makasih, Ren. Itu udah lebih dari cukup buat Ayah."


Keesokan paginya, Rendra berangkat sekolah dengan membawa kotak bekal merah yang sama. Kali ini, ia tak menyembunyikan kotak itu di dalam tasnya. Justru ia memeluk kotak itu sebentar sebelum memasukkannya dengan hati-hati.

Disaat jam istirahat sudah tiba, Rendra membuka penutup kotak bekalnya dan mengajak Janaka makan bersama.

"Bekal masakan Ayah gue enak, loh!" ucapnya dengan bangga.

Di depan Rendra, mungkin hanya nasi, telur dadar, dan sayur. Tetapi, kini ia paham setiap makanan didalamnya menyimpan waktu, tenaga, dan kasih sayang seorang Ayah.


Jangan pernah malu dengan pekerjaan orang tua, karena setiap pekerjaan itu jujur dan juga mulia. Hargailah pengorbanannya dan kasih sayang mereka, meski hanya ditunjukkan melalui hal sederhana.