Bahasa Kasih Yesus : Mengubah Ego Menjadi Berkah

Di zaman sekarang, kita sangat mudah mengetik pesan atau memberikan like di media sosial. Tapi anehnya, terkadang kita justru merasa berat untuk mengucapkan tiga kata sederhana di dunia nyata.

Tiga kata itu adalah : Tolong, Maaf, dan Terima Kasih.

Tiga kata ini bukan sekadar formalitas, melainkan "kunci sakti" yang menunjukkan seberapa berkelasnya kualitas diri kalian sebagai remaja Katolik dan siswa SMP yang berbudi pekerti.


1. Kata "Tolong": Mengubah Perintah Menjadi Penghormatan

Sebagai anak SMP, kalian pasti sering membutuhkan bantuan, baik dari orang tua, guru, maupun teman sekelas. Misalnya, meminjam pulpen, meminta penjelasan tugas, atau meminta bantuan mengambilkan sesuatu.

  • Bedanya egois vs sopan : Coba rasakan bedanya antara kalimat, "Woi, ambil penggaris dong!" dengan "Eh, boleh tolong ambilkan penggaris itu?" Kalimat pertama terdengar seperti bos yang sedang memerintah budaknya. Kalimat kedua menunjukkan bahwa kalian menghargai tenaga dan waktu orang lain.
  • Nilai imannya : Yesus sendiri mengajarkan kita untuk menjadi pelayan bagi sesama, tetapi Dia tidak pernah memaksa. Ketika kita mengucapkan kata "tolong", kita sedang merendahkan hati dan mengakui bahwa kita adalah manusia yang saling membutuhkan.

2. Kata "Maaf": Menurunkan Ego, Meningkatkan Kedewasaan

Siapa di sini yang kalau berbuat salah, refleks pertamanya adalah mencari alasan atau membela diri? "Ya lagian dia duluan yang mulai!" atau "Kan aku enggak sengaja!" Itu adalah hal yang manusiawi, tapi kalau terus dipelihara, itu adalah tanda sifat yang kekanak-kanakan.

  • Berani minta maaf itu keren : Meminta maaf bukan berarti kalian kalah atau lemah. Justru, orang yang berani meminta maaf duluan adalah orang yang paling kuat dan dewasa karena dia berhasil mengalahkan egonya sendiri.
  • Nilai imannya : Setiap kali memulai Misa Kudus, doa apa yang pertama kali kita ucapkan bersama? Doa Saya Mengaku (Tobat). Kita meminta maaf kepada Allah dan sesama. Jika di hadapan Tuhan kita mau mengaku salah, mengapa di hadapan teman atau orang tua kita gengsi? Mengucapkan maaf dengan tulus bisa menyembuhkan luka hati orang lain dan mendatangkan kedamaian.

3. Kata "Terima Kasih": Bentuk Rasa Syukur yang Nyata

Sering kali kita menganggap kebaikan orang lain sebagai hal yang sudah semestinya kita terima. Orang tua memasak atau membiayai sekolah? "Ah, kan memang sudah kewajiban mereka." Teman mau meminjamkan catatan? "Ya kan kita temenan." Pikiran seperti ini sangat berbahaya karena membuat kita menjadi orang yang kurang bersyukur.

  • Apresiasi hal kecil : Mulai hari ini, biasakan mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil. Terima kasih kepada petugas kebersihan sekolah yang membuat kelas kita nyaman, terima kasih kepada teman yang sudah mendengarkan curhatan kita, dan terima kasih kepada orang tua saat menjemput sekolah.
  • Nilai imannya : Kata "Ekaristi" sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya ucapan syukur. Hidup sebagai seorang Katolik adalah hidup yang dipenuhi rasa syukur. Ketika kita berterima kasih kepada sesama, kita sebenarnya sedang memuliakan Tuhan yang bekerja melalui kebaikan orang tersebut.


Kepintaran kalian di kelas, nilai ujian yang bagus, atau seberapa populernya kalian di sekolah tidak akan ada artinya jika kalian tidak memiliki tata krama.Tiga kata ini : "Tolong, Maaf, dan Terima Kasih" adalah cerminan dari hati yang penuh kasih. 

Mari kita biasakan mulai hari ini, mulai dari lingkungan kelas ini, lalu bawa ke rumah masing-masing. Jadilah remaja yang kehadirannya membawa kesejukan bagi orang lain melalui tutur kata yang baik.